Jumat malam, 18 Desember 2008, sekitar pukul delapan malam, pesan pendek mampir di handphone. Bunyinya mengagetkan, “Bandar Lampung kebanjiran. Sekretariat Watala terendam hingga gentengnya.” Informasi lain datang dengan nada yang sama.
“Di Cimeng, Teluk, lebih parah!” Aku tak bisa membayangkan apa yang dimaksud lebih parah. Yang jelas beberapa titik di Bandar Lampung ada yang lebih rendah dari lanscape tanah Sekretariat Watala. Rumah Sakit Abdul Moeloek juga terendam.
Paginya aku baca beritanya di Lampung Post. Koran tersebut bicara, Tanjung Karang Pusat, Tangjung Karang Timur, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Barat, Kotakarang, Panjang, dan Kedaton terendam dengan ketinggian genangan berbeda-beda. Air bandang menyerang kota setelah hujan tida henti sejak siang hingga malam.
Aku gak bisa berkata apa-apa lagi. Jika Anda ingin berkomentar silakan…….
Filed under: Sedih, Bandar Lampung, banjir, darurat, ekonomi, harapan, infrastruktur, Kedaton, Lampung, pembangunan, program, Tanjung Karang, Teluk Betung, Urban, Watala

Musim banjir, musim demam berdarah, musim antri LPG, musim kampanye…